STOP sexual harassment

itf-stopPernah mengalami tindakan pelecehan seksual (Sexual Harassment), contohnya tiba-tiba teman kantor kita (laki-laki) merangkulkan tangannya dipundak kita, kita merasa risi dan tidak nyaman atas tindakan yang dilakukan terhadap kita. Atau teman kita melontarkan lelucon porno, maksudnya ingin melucu tetapi kita merasa terganggu atas leluconnya. Contoh itu tadi bisa disebut dengan pelecehan seksual.

Pelecehan seksual bisa terjadi dimana saja, termasuk ditempat kerja kita. Banyak dari kita mengalami kejadian seperti contoh diatas tapi mungkin situasi tersebut dianggap sebagai suatu yang normal terjadi atau bahkan kita tidak mengetahui bahwa kita telah menjadi korban pelecehan seksual.

Apa itu pelecehan seksual?

Pelecehan seksual adalah suatu keadaan yang tidak bisa diterima, baik secara lisan, fisik atau isyarat seksual, pernyataan yang bersifat menghina secara tegas, atau keterangan secara seksual bersifat membedakan dibuat oleh seseorang yang menyerang pada pekerja yang terlibat, dimana menyebabkan pekerja tersebut merasa terancam, dipermalukan,dibodohi, dilecehkan, atau melemahkan kondisi keamanan kerja atau menciptakan ancaman atau intimidasi lingkungan kerja.

Pelecehan seksual meliputi cakupan yang luas atas kejadian seksual yang tidak dikehendaki, yang meliputi:

  • kontak fisik yang tak perlu, menyentuh atau menepuk
  • kata-kata yang tidak bisa diterima dan sugestif, lelucon, komentar mengenai penampilan dan ucapan lisan yang disengaja
  • mengerling dan undangan yang mencurigakan
  • mengunakan gambar-gambar porno ditempat kerja
  • ajakan seksual
  • serangan fisik dan perkosaan

Pelecehan seksual di tempat kerja seringkali disertai dengan janji imbalan pekerjaan atau kenaikan jabatan.  Bahkan bisa disertai ancaman, baik secara terang-terangan ataupun tidak.  Kalau janji atau ajakan tidak diterima bisa kehilangan pekerjaan, tidak dipromosikan, dimutasikan, dsb.  Pelecehan seksual bisa juga terjadi tanpa ada janji atau ancaman, namun dapat membuat tempat kerja menjadi tidak tenang, ada permusuhan, penuh tekanan, dsb.

Mengapa korban pelecehan seksual adalah perempuan?

Disebutkan pelecehan seksual terhadap perempuan di tempat kerja telah tercatat sejak pertama kali perempuan memasuki pasar tenaga kerja (Sumber dari Sexual Shakedown: the Sexual Harassment of Women on the job, Lin Farley (1978)) .  Ini berarti bahwa pelecehan seksual terhadap perempuan di tempat kerja bukanlah suatu persoalan yang baru, tetapi sudah setua umur sejarah perempuan memasuki dunia kerja (publik) yaitu sejak kapitalisme berkembang. Farley mengatakan bahwa pelecehan seksual merupakan metode baru yang dikembangkan oleh kapitalisme dalam mengontrol tenaga kerja perempuan.

Data mengatakan bahwa sebagian besar korban pelecehan seksual adalah perempuan. Seperti kita ketahui bahwa “men have power over women in society”. Karena kondisi kekuasaan sosial yang menempatkan posisi laki-laki lebih tinggi (dibaca: berkuasa) dari perempuan, maka laki-laki (termasuk rekan kerja laki-laki kita) menyalah gunakan “kekuasaannya” untuk mendapatkan manfaat keuntungan seksual terhadap perempuan.

Ada 3 teori dalam menganalisa pelecehan seksual seperti yang dikatakan oleh Sandra S. Tangri, Martha R. Burt and Leanor B. Johnson:

  • Teori Biologis. bahwa perilaku pelecehan seksual merupakan suatu ekspresi dari kerja hormon-hormon seksual laki-laki dan perempuan, di mana laki-laki dipandang memiliki dorongan seksual yang lebih besar sehingga seringkali laki-laki menjahili perempuan secara seksual, walaupun di tempat kerja.
  • Teori Sosiokultural. Mengasumsikan bahwa laki-laki dan perempuan secara sosiokultural dibesarkan oleh suatu sistem yang menempatkan mereka sebagai dua pihak yang tidak setara;
  • Teori Organisasional. Teori ini berangkat dari asumsi bahwa dengan adanya perbedaan struktur dalam dunia kerja (ada atasan dan bawahan), maka ada peluang bagi mereka yang punya posisi atau hierarki lebih tinggi untuk memperlakukan mereka yang menjadi bawahannya secara sewenang-wenang.

Sering teman kerja dan atasan (laki-laki) memberikan pernyataan bahwa ketertarikan seksual adalah hal yang alamiah dan dialami oleh manusia, TAPI ingat tindakan seksual yang tidak bisa diterima dan dikehendaki adalah yang disebut dengan pelecehan seksual.

Banyak dari kita merasa tidak peduli (atau acuh) atas tindakan-tindakan seksual yang sering terjadi di tempat kerja kita contohkan seperti lelucon porno, memegang atau menyentuh tubuh kita. Karena kita mengganggapnya sebagai hal yang “normal atau biasa terjadi”. Tetapi ingat tindakan pembiaran tadi akan mengakibatkan suasana tempat kerja menjadi tidak aman baik bagi diri kita atau rekan kerja kita, suasana tempat kerja menjadi tidak sehat:

  • Perilaku yang bersifat seksual, atau perilaku secara seksual yang mempengaruhi martabat pekerja laki-laki dan perempuan di tempat kerja
  • Menyakitkan atau membahayakan bagi orang yang mengalami pelecehan seksual

Pelecehan seksual adalah salah satu bentuk diskriminasi terhadap perempuan di tempat kerja, seperti pembedaan upah, karier, dan segregasi jenis pekerjaan.

Pelecehan seksual dalam industri transportasi

Pelecahan seksual bukanlah masalah seks, pelecehan seksual adalah masalah penyalahgunaan kekuasaan (abusing power), jadi bisa terjadi dimana saja dan bisa dialami oleh siapa saja.

Pekerja perempuan dalam indusri transportasi dapat dikatakan kelompok yang rentan atas tindakan pelecehan seksual. ITF melaporkan dalam survey dan laporan dari serikat pekerjanya dikatakan bahwa pelecehan seksual telah menyebar di semua lini indusri transportas:

  • pelecehan seksual adalah permasalahan yang serius di industri penerbangan sipil. Iklan mereka sungguh sangat melecehkan yang menggambarkan awak kabin lebih sebagai obyek seks; contoh iklan dibawah ini


iklan-air-asia

  • Serikat pekerja di Inggeris menemukan bahwa masinis perempuan mengalami secara terus menerus pelecehan seksual, dan ini membuat hidup mereka “sengsara”;
  • Pekerja perempuan transportasi darat di Amerika Latin sering berhadapan dengan majikan mereka yang menginginkan hubungan seksual. Bila mereka menolak akan dikenakan shift malam, atau shift sangat pagi, atau dipekerjakan jauh dari lokasi rumah mereka;
  • Di Afrika Selatan dan Meksiko, perkosaan terhadap pekerja perempuan transportasi darat adalah suatu hal yang sering terjadi

Pelecehan seksual sering terjadi di tempat kerja khususnya dimana pekerja perempuan adalah minoritas. Di industri pelayaran, hanya 9% perempuan di dunia yang bekerja dalam industri ini. Secara tradisional pekerjaan ini adalah “milik” laki-laki, mereka mencoba untuk menghalangi perempuan masuk dalam pekerjaan ini. Pelecehan seksual juga merupakan permasalahan yang serius di industri pelayaran. Sebuah studi terhadap pelaut perempuan di Eropa menunjukan bahwa mereka sering merasa dipaksa untuk masuk ke kabin mereka dan menguncinya sebagai salah satu cara untuk menghindari dari peleceha. Artinya bahwa mereka terisolasi. Mereka mengasingkan diri dari rekan kerja pelaut laki-laki. Banyak dari mereka menyerah dan keluar dari pekerjaannya.

Bayangkan situasi diatas, mereka berada disuatu tempat ditengah laut dan tidak kita ketahui dimana lokasinya, tidak ada polisi ataupun telepon bantuan! Maka ITF untuk Industri Pelayaran telah mengesahkan garis panduan kebijakan tentang ras dan pelecehan seksual untuk dimasukan dalam semua ITF-approved collective agreement for flag of convenient and national flag vessel. Model klausal telah dikembangkan: “setiap pelaut berhak untuk bekerja, mendapat pelatihan dan hidup dalam lingkungan yang bebas dari pelanggaran dan gangguan: baik itu secara seksual, rasial ataupun hal-hal yang menimbulkan motivasi tersebut, sesuai dengan ITF policy guideline”

Pelecehan seksual adalah isu serikat pekerja!

Pelecehan seksual bukan hanya isu pekerja perempuan tetapi semua pekerja dan serikat pekerja. Serikat pekerja harus memastikan bahwa tempat kerja adalah aman bagi semua pekerja, dan menjamin bahwa manajemen memiliki kebijakan bebas dari tindakan pelecehan seksual. Serikat pekerja perlu melakukan “tekanan” kepada manajemen bahwa kebijakan tersebut adalah ada dan dijalankan.

Pelecehan seksual adalah juga bentuk dari diskriminasi, serikat pekerja memiliki tugas untuk memastikan bahwa tempat kerja tidak ada diskriminasi dalam bentuk apapun. Perlu Anda ketahui bahwa pelecehan seksual adalah merupakan isu keamanan dan kesehatan kerja, mengapa? Karena tindakan itu merugikan korban pelecehan seksual dan semua pihak termasuk rekan kerja, pengusaha ataupun pelaku pelecehan:

  • Korban pelecehan seksual: hilang kepercayaan diri, harga diri dan kehormatan diri; tempat kerja tidak aman maupun tidak menerima mereka; keamanan pekerjaan terancam; penurunan prestasi kerja (stress dan sakit, dan terganggu hubungan antar-personal);
  • Rekan kerja: akan terjadi penurunan moral, meningkatnya tekanan dan konflik. Dan juga mengakibatkan stress akibat situasi itu mungkin bisa terjadi dengan mudah bagi mereka (rasa takut dan cemas);
  • Pelaku pelecehan seksual: hilangnya rasa hormat dari rekan kerja dan atasan; mendapatkan sanksi disiplin dan juga mungkin pemecatan, membahayakan kesempatan peningkatan karier. Dan bila dilaporkan ke pihak yang berwenang (polisi) dan ada tuntutan hokum maka ia bisa mendapatkan sanksi pidana hukum;
  • Atasan/Pengusaha: produktifitas menurun karena penyebaran iklim kerja yang tidak nyaman dan aman di tempat kerja; pekerja berhenti kerja atau minta dipindahkan; meningkatnya ketidakhadiran pekerja di tempat kerja karena sakit akibat stress; “iklan” buruk perusahaan atas citra tindakan tidak bermoral; menghadapi kasus tuntutan hukum karena mereka melanggar hukum anti-diskriminasi atau hukum K3, hal ini menyita waktu dan membutuhkan biaya yang besar (membayar kuasa hukum ataupun konpensasi yang harus dibayarkan kepada penuntut. Dan juga biaya untuk mengembalikan citra perusahaan atas kerusakan yang diakibatkan)

Pelecehan seksual tidak bisa diterima dan kita semua harus dengan berani meyuarakan STOP pelecehan seksual di tempat kerja. Banyak rekan kerja kita dan kita sendiri masih ragu untuk melaporkan tindakan pelecehan seksual yang dialami. Takut akibatnya malah kita kena sanksi, diasingkan atau dipecat. Seperti yang dimaksud diatas pelecehan seksual adalah permasalah serius di industri transportasi, keberanian kita mengatakan tidak bersama serikat pekerja dibutuhkan, tetapi bagaimana caranya? Caranya adalah LAPORKAN! Jangan diam!

Ingat!  JIka anda menjadi korban pelecehan seksual, jangan diam saja!. Pikirkanlah langkah-langkah yang bisa anda ambil.  Selalu tanamkan dalam diri anda bahwa pelecehan yang terjadi sama sekali buka kesalahan anda.  Langkah-langkah yang bisa anda lakukan adalah

  • Membuat catatan tentang kejadian pelecehan seksual yang anda alami.  Catat dengan teliti identitas pelaku, tempat kejadian, waktu, saksi dan yang dilakukan oleh pelaku serta ucapan-ucapan pelaku.
  • Bicara pada orang lain tentang pelecehan seksual yang anda alami.  Ceritakan kepada teman sekerja, atasan, pengurus serikat pekerja atau siapa saja yang anda percayai dan mau mengerti situasi yang anda hadapi;
  • Memberi pelajaran kepada pelaku. Apabila anda sanggup melakukannya katakan kepada pelaku bahwa tindakannya tidak dapat anda terima.  Anda dapat melakukannya dengan ucapan verbal dengan kata-kata, melalui telepon atau surat.  Ajak seorang teman untuk menjadi saksi.
  • Melaporkan pelecehan seksual tersebut, karena pelecehan seksual melanggar hukum.  Maka, sangat tepat jika pelecehan seksual yang anda alami segera anda laporkan ke polisi.

Ini adalah perangkat hukum nasional[1] yang relevan dengan pelecehan seksual. Ada beberapa pasal dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang dapat menjerat seseorang pelaku pelecehan seksual:

  • Pencabulan pasal 289-296;
  • Penghubungan pencabulan pasal 295-298 dan pasal 506
  • Persetubuhan dengan wanita di bawah umur pasal 286-288

Undang-Undang Hak Asasi Manusia No. 39/1999 yang menyatakan dengan tegas bahwa setiap manusia memiliki hak dan martabat yang sama dan sederajat, berhak atas jaminan dan perlindungan hak asasi manusia tanpa diskriminasi.

Konvensi tentang Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW: Convention on Elimination Discrimination Against Women), 1979. Konvensi ini merupakan perjanjian internasional yang paling komprehensif dan menetapkan keajiban hukum yang mengikat untuk mengakhiri diskriminasi terhadap perempuan. Konvensi ini juga menetapkan persamaan kesempatan perempuan dan laki-laki untuk menikmati hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Indonesia telah meratifikasi (mengesahkan) konvensi ini melalui UU No. 7/1984.

Perjanjian Kerja bersama. Masukkan klausal tentang stop pelecehan seksual dalam perjanjian kerja bersama and adi tempat kerja, pastikan bahwa itu dijalankan dengan benar, dan ada sanksi bila melanggarnya.

Contoh kasus:



[1] Sumber dari Rifka Annisa Women’s Crisis Center

Materi ini disiapkan dalam kegiatan seminar nasional ITF di Bali tahun 2008






Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s