Aktifitis serikat buruh dan pemilu 2009: kesempatan atau jebakan

cartoon_gallery__550x3080Barusan saya mendapatkan kumpulan artikel dari surat kabar berita tentang “buruh dan pemilu 2009”. Apa yang menarik? Dengan “ambisius” mereka mengatakan bahwa ketika (jika)  banyak aktifis buruh masuk parlemen “kita akan perbaiki UU Perburuhan dan Cabut SKB Empat Menteri!”[1]

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan partai-partai yang akan ikut serta pada pemilu 2009 beserta nomor urut kepersertaannya. Sebanyak empat puluh empat (44)[2] partai berhasil lolos dalam kualifikasi KPU dan berhak menjadi peserta Pemilu 2009 mendatang. Sebagian besar adalah partai baru. Selain partai nasional tadi, ditetapkan pula 6 partai lokal khusus NAD[3] yang turut bertarung dalam pemilu ini.

Apakah benar mereka akan berhasil menyuarakan kepentingan dan hak buruh ketika masuk parlemen? Apakah tidak bertentangan dengan kebijakan partai? Hanya satu partai yang menggunakan nama buruh, yaitu Partai Buruh (dulu bernama Partai Buruh Sosial Demokrat).

Pertanyaannya adalah: Apakah partai tersebut dan juga aktifis buruh bisa diperhitungkan (untuk dipilih) dan memiliki suara yang signifikat dalam pemilu ini? Dan apakah mereka mampu menyuarakan kepentingan buruh seperti yang divisikan?

Apakah benar masuk parlemen hanyalah salah satu jalan untuk menyuarakan kepentingan dan hak buruh? Surya Tjandra, Direktur Trade Union Rights Center (TURC)[4], pada masa setelah kemerdekaan para buruh menikmati perlindungan hukum yang lebih baik dibandingkan sekarang, contohnya penetapan jam kerja 40 jam/seminggu melalui UU No. 12 tahun 1948 (dimana masih banyak Negara memberlakukan jam kerja antara 44-48 jam/seminggu), penetapan UU No. 21 Tahun 1954 tentang Perjanjian Kerja Bersama, tahun 1956 pmerintah meratifikasi ILO Konvensi No. 98/1949 tentang Hak untuk Berorganisasi dan Hak untuk Perjanjian Kerja Bersama, dan banyak lagi.

Banyaknya peraturan hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah karena serikat buruh sangatlah kuat pada era pertengahan tahun 1950-an. Diperkirakan jumlah keanggotan buruh diserikat pekerja adalah sekitar 2 juta dalam 13 federasi yang berbeda. Kepadatan jumlah buruh yang menjadi anggota (union density) adalah sekitar 20 %, dikatakan bahwa prosentase tersebut adalah standard yang tinggi (pada saat itu) bagi negara-negara sedang berkembang. Serikat buruh pada umumnya memiliki jaringan dengan partai politik yang ada saat itu, dikarenakan iklim politik (saat itu) bermunculan karena gerakan massa, dan serikat buruh adalah gerakan massa dan yang paling efektif untuk “alat” menggerakkan massa demi mendapatkan dukungan. Contohnya adalah SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), union sayap kiri yang berafiliasi dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Dimana organisasi ini mengklain bahwa hampir separuh buruh adalah anggota mereka (Manning, 1998: 2003).

Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana pergerakkan buruh saat ini? apakah masih sekuat dulu atau terpecah? Reformasi dan diakuinya kebebasan berserikat serta demokrasi organisasi tidak menumbuhkan kekuatan organisasi sebagai kekuatan kolektif yang signifikant. Tiga national center (konfederasi), puluhan federasi dan ribuan serikat pekerja independent atau tempat kerja yang berafiliasi maupun tidak berafiliasi dengan federasi/konfederasi yang dimaksud tidak menumbuhkan kekuatan kekuatan yang signifikan dalam pergerakkan perburuhan di Indonesia. Kalau boleh saya memberikan kritik (boleh diprotes) produk-produk hukum perburuhan saat ini yang tidak melindungi buruh adalah karena kelemahan organisasi buruh itu sendiri. Banyak aktifitas seperti demo, mogok, rally atau hal lainnya “tetap” tidak diperhitungkan (baca: diabaikan) karena aftifitas tersebut lebih bersifat kepentingan individu organisasi dibandingkan gerakan kolektif bersama serikat pekerja.

Justru kebebasan berserikat saat ini malah terkotak-kotak (baca: pecah) dalam jalur kependidikan (blue collar dan white collar) serta dalam jenis pekerjaan mereka (private dan public). Dan juga kecenderungan beberapa federasi menjadikan serikat pekerja mereka serikat pekerja umum karena hanya untuk faktor menarik anggota, sehingga ini sungguh akan melemahkan pergerakkan serikat pekerja mereka dikemudian hari. Identitas organisasi serikat pekerja adalah penting untuk proses mewakili dan keterwakilan.

Lalu, apakah dengan menjadi anggota parlemen (nantinya) para aktifis buruh akan dengan mudah “menggubah” undang-undang dan peraturan perburuhan yang tidak berpihak pada buruh? Politic is about power, politik adalah tentang kekuasaan. Apakah justru mereka akan “diam” seribu bahasa karena sudah mengecapkan “kenikmatan manfaat (secara material)” sebagai anggota parlemen? Atau malah mereka dibungkam oleh partainya karena memang tidak memiliki kebijakan yang membela buruh. Buruh tetap dijadikan komoditas dan kendaraan untuk menggerakkan massa dalam mendapatkan dukungan suara. Ada juga ide yang menarik, lebih baik aktifis buruh masuk dewan kepengurusan partai dan memasukkan prinsip dan idelogi perburuhan dalam partai itu dibandingkan masuk parlemen. Kalau masuk parlemen ibaratnya mereka adalah ikan kecil yang masuk dalam kolam piranha!


[1] Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/06/01333165/aktivis.buruh.incar.parlemen

[2] Sumber: http://www.kpu.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=5967&Itemid=83

[3] Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/07/23212471/daftar.parpol.peserta.pemilu.2009

[4] Sumber: Understanding Workers’ Law Reform in Indonesia: 1998 – 2006

2 thoughts on “Aktifitis serikat buruh dan pemilu 2009: kesempatan atau jebakan

  1. Pingback: Jepang: Era Perubahan Dari Timur dan Peranan Serikat Pekerja « UNIONISM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s