STOP Violence at Work!

Awal mula, mengapa tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Internasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

psi-svawSetiap tanggal 25 November, dunia memperingati Hari Internasional Anti-kekerasan Terhadap Perempuan (International Day for the Elimination of Violence against Women). Peringatan ini adalah bentuk penghargaan atas peristiwa tragis yang dialami oleh tiga perempuan bersaudara: Minerva, Maria Teresa dan Patricia Mirabel. Peristiwanya bermula saat 25 November 1960 ketiganya pulang seusai menjenguk suami mereka yang dipenjara rezim militer Jenderal Rafael Leonidas Trujillo yang saat itu menjadi penguasa tiran di Republik Dominika.

Jenderal Trujillo memerintahkan polisi rahasia untuk menculik tiga perempuan bersaudara tersebut. Sebelum akhirnya dibunuh; Minerva, Maria Teresa, dan Patricia Mirabel disiksa dan diperkosa secara bergiliran. Mirabel bersaudara memang bukan dari kalangan perempuan biasa. Mereka adalah para aktivis perlawanan bawah tanah terhadap rezim kediktatoran kekuasaan militer Jenderal Trujillo. Ayah ketiga perempuan ini pun, Don Enrique Mirabal, berulang kali harus merasakan kekuasaan tiran El Jefe (Tuan Besar), sebutan untuk sang diktator, hanya untuk persoalan sepele. Suami ketiga perempuan bersaudara itu juga dikenal sebagai aktivis bawah tanah dari Popular Socialist Party, organisasi perlawanan yang didirikan oleh Pericles Franco Omes di tahun 1940. Bersama-sama dengan suami mereka, ketiga perempuan ini menggalang pengorganisasian di tengah kelas pekerja Dominika dan melalui gereja-gereja.

La Miraposa (Sang Kupu-kupu) demikian Minerva, Maria Teresa, dan Patricia Mirabel mendapat julukan di kalangan dunia pergerakan perlawanan terhadap kediktatoran Jenderal Trujillo.

Adalah Kongres Feminis Latin Amerika dan Kepulauan Karibia di tahun 1981 yang kali pertama mempopulerkan tanggal terbunuhnya La Miraposa sebagai Hari Internasional Antikekerasan terhadap Perempuan. Tetapi baru pada tahun 1991 Hari Internasional Antikekerasan terhadap Perempuan menjadi kalender Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Delapan tahun kemudian (1999), the United Nations General Assembly menyatakan bahwa tanggal 25 November sebagai the International Day for the Elimination of Violence Against Women (IDEVAW).

The White Ribbon Day Campaign

white-ribbonKampanye Hari Pita Putih (The White Ribbon Campaign), adalah sebuah kampanye untuk berbicara anti-kekerasan terhadap perempuan. Kampanye ini diciptakan oleh sekumpulan Laki-Laki Kanada pada tahun 1991 pada saat peringatan kedua atas terjadinya pembunuhan masal terhadap 14 perempuan di Montreal. Mereka mengawali Kampanye Pita Putih untuk mendorong para laki-laki berbicara anti-kekerasan terhadap perempuan. Saat in The White Ribbon Day Campaign menjadi simbol, untuk menciptakan suatu komunitas dan model yang baik dimana laki-laki berbicara anti-kekerasan terhadap perempuan

Kekerasan Ditempat Kerja

Kekerasan ditempat kerja selalu tidak menjadi perhatian utama pekerja dan serikat pekerja. Pekerja disektor transportasi adalah kelompok rentan atas kekerasan fisik (physical violence) dan kekerasan non-fisik (non-physical violence) karena pekerjaan yang mereka lakukan: bekerja dalam kondisi tekanan atas layanan kepada masyarakat yang mereka berikan: bekerja sendirian atau bekerja diluar jam kerja normal adalah faktor-faktor yang bisa menimbulkan masalah yang disebut dengan kekerasan.

Pekerja laki-laki dan perempuan mengalami situasi tersebut tetapi kelompok perempuan lebih rentan atas kekerasan dalam berbagai cara oleh karena berhubungan langsung dengan pengguna jasa layanan, bekerja sendirian atau bekerja malam hari dan juga karena perjalanan yang mereka lakukan ke tempat kerja atau pulang dari tepat kerja, situasi tersebut menempatkan mereka pada posisi bahaya dari apa yang disebut dengan motivasi penyerangan secara seksual (sexually-motivated attacks)

Apa yang disebut dengan kekerasan ditempat kerja

Kekerasan ditempat kerja didefinisikan sebagai tindakan fisik (Misal: pembunuhan, penyerangan, pemukulan) atau tindakan psikologi (Misal: teror, menakuti, melecehkan, memarahi, menggoda, mengancam, intimidasi) yang akan mempengaruhi pekerja yang bersangkutan.

Situasi kekerasan tidak berdiri sendiri (tidak tunggal) yang artinya bahwa banyak faktor yang menyebabkan. Oleh karena mengenali kekerasan ditempat kerja menjadi perlu bagi semua pekerja (recognising workplace violence).


Menurut WHO World Report on Violence and Health, definisi kekerasan adalah: secara sengaja menggunakan tekanan fisik atau kekuasaan, secara mengancam atau sungguhan, terhadap diri sendiri, orang lain, atau terhadap kelompok atau komunitas yang mengakibatkan kemungkinan atau terjadinya luka, kematian, kerugian psikologis, gangguan pengembangan atau terampas

Kejadian atas kekerasan ditempat kerja dari hari ke hari semakin meningkat, tetapi tingkat kesadaran para pekerja mulai meningkat pula atas kejadian yang dialami oleh mereka sendiri atau rekan kerja mereka. Secara tradisional kekerasan hanya diketahui sebagai bentuk kekerasan fisik saja, tetapi saat ini kejadian menjadi meningkat pula atas dampak yang diakibatkan oleh kekerasan psikologi. Kekerasan psikologi dapat meliputi berbagai macam cara atau taktik, dan semua itu mengakibatkan luka emosional yang sangat signifikan terhadap pekerja yang menjadi korban. Memang sepertinya kekerasan emosional ini tidak terlihat tetapi bisa menjadi suatu kondisi yang bisa “meledak” ketika dilakukan berulang-ulang (biarpun sangat tidak “kentara” misal: dikatai BODOH, secara berulang-ulang dan didepan para pengguna jasa kita atau teman sekerja).

Seperti dimaksud diatas, banyak kekerasan yang terjadi berhubungan dengan jender. “Pengalaman” mengatakan bahwa kasus kekerasan lebih banyak menimpa perempuan, karena mereka merupakan “soft target” dibandingkan dengan laki-laki, dan juga karena mereka pada posisi “high-risk occupation” (karena pekerjaan mereka kontak langsung dengan pengguna jasa layanan, misal: awak kabin, kondektur, masinis, dan sebagainya).

Awak kabin adalah salah satu pekerja yang menempati resiko tinggi kekerasan ditempat kerja karena jarak tempuh perjalanan atau karena perilaku penumpang, misal:

  • mabuk karena kelebihan minum alkohol;
  • jenuh karena penerbangan yang lama, larangan merokok, dan jumlah penumpang yang penuh, atau;
  • juga karena perilaku awak kabin sendiri: karena kelelahan atau kondisi kerja yang buruk

Oleh karena kondisi tersebut tidak hanya mengancam para awak kabin saja tetapi juga terhadap penumpang yang lain dan yang terpenting adalah mengancam atas keselamatan penerbangan.

Resiko kekerasan di tempat kerja dialami setiap harinya di industri transportasi, pekerja mengalami acaman kekerasan dari yang paling ringan sampai terberat. Situasi ini berdampak serius bagi daya tahan fisik dan emosional pekerja. Situasi tersebut merupakan masalah kesehatan dan keamanan kerja, dan perlu mendapatkan perhatian serius sebagai gangguan di tempat kerja.

Seperti disebutkan diatas, kekerasan ditempat kerja tidak berdiri sendiri, oleh karena iti kita perlu mengenal Violence Risk Factors :

  • Masa tumbuh-kembang dan pengaruh orangtua dan keluarga (pelaku kekerasan);
  • Faktor budaya: misal kekerasan dianggap sebagai “bentuk” pembenaran/normal ditempat kerja kita, atau kekerasan sebagai bentuk penegakkan disiplin ditempat kerja;
  • Ketidaksetaraan ekonomi: hubungan kerja yang didefinisikan sebagai ATASAN-BAWAHAN, dan bentuk penyalahgunaan kekerasan;
  • Jender: ketidaksetaraan/ketidakadilan jender dan wujud dari norma yang berlaku dimasyarakat yang menempatkan perempuan sebagai sub-ordinat
  • Faktor Personal: konflik ditempat kerja dan keinginan balas dendam
  • Faktor biologis: hormonal, testosterone: maskulinitas atau macho
  • Gangguan mental: perilaku dan sikap kekerasan karena pelaku menderita gangguan mental: paranoid, schizophrenia, power syndrome
  • Pengaruh media: media menonjolkan bentuk kekerasan sebagai penyelesaian masalah
  • Rekan kerja dan situasi kerja/perusahaan: rekan kerja dan situasi kerja yang agresif mendorong dan mempengaruhi agresifitas (negatif), prasangka buruk, diskriminasi, kondisi dan syarat kerja yang buruk, upah rendah, jam kerja yang panjang, kelelahan
  • Faktor-faktor substansi lainnya: pelaku kekerasan adalah pengguna obat terlarang dan peminum obat, sex disorder, personality disorder

contohSiapa Yang Dirugikan Dan Bertanggung Jawab Atas Kekerasan Ditempat Kerja

Semua pihak dirugikan atas terjadinya kekerasan ditempat kerja dan semua orang/pihak bertanggung jawab (pengusaha, pekerja/serikat pekerja dan pemerintah) atas terjadinya kekerasan tersebut. Mayoritas pekerja tidak mau menjadi korban di tempat kerjanya, tetapi banyak dari mereka telah menjadi korban kekerasan di tempat kerja.

Kekerasan tidak bisa ditoleransi dimanapun, dalam lingkungan kerja dibutuhkan kesetaraan dan perlakuan yang adil, rasa hormat dan menghormati, hubungan kerja yang aman dan nyaman, dan itu semua akan mempengaruhi hubungan kerja dan produktifitas.

Komitmen perusahaan (kebijakan dan sangsi) akan meminimalkan kejadian kekerasan ditempat kerja, serikat pekerja bisa mengusulkan hal ini melalui perjanjian kerja bersama (PKB).

  • Aksi pencegahan adalah diutamakan dan dibutuhkan;
  • Organisasi pekerja dan lingkungan kerja memiliki kunci yang signifikan dalam menemukan masalah dan mengatasinya;
  • Perusahaan melibatkan secara aktif serikat pekerja dalam menemukan masalah dan mengatasinya serta menjalankan solusi;
  • Partisipasi aktif pekerja dan serikat pekerja dalam mengidentifikasi masalah dan menjalankan solusi;
  • Peningkatan ketrampilan interpersonal secara teratur dan merata;
  • Penyediaan sarana untuk pemulihan, konseling, pembiayaan medis dan konsekuensinya dan menerapkan zero tolerance terhadap kekerasan
  • Terus menerus menilai dan memperbaruhi kebijakan dan strategi untuk mencegah kekerasan yang lebih luas ditempat kerja

The Di Martino Model for the management violence at work place

contoh21Kerja Serikat Pekerja Untuk Mencegah Terjadinya Kekerasan Ditempat Kerja

Serikat pekerja adalah agen untuk perubahan yang baik ditempat kerja. Menciptakan tempat kerja yang terbebas dari bentuk kekerasan adalah dambaan semua pekerja. Serikat pekerja dan pekerja secara proaktif melakukan kampanye pelaksanaan kebijakan anti-kekerasan ditempat kerja. Lingkungan kerja yang nyaman, aman dan terbebas dari kekerasan fisik maupun psikologi akan menciptakan hubungan kerja yang harmonis dan produktitas yang optimal

——————————————————————————-

Materi ini ditulis oleh Indah Budiarti berdasarkan dari banyak sumber dan dipublikasikan semata untuk kepentingan pendidikan atau pelatihan serikat pekerja oleh karena itu materi ini dapat dengan bebas diperbanyak bagi kepentingan yang sama.Materi asli dapat diminta melalui email.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s