Jobber du naken?

jober du nakenSaya barusan dari Norwegia untuk menjadi pembicara tamu dalam kegiatan konferensi musim panas bagi orang muda anggota dari Fagforbundet (Fagforbundet Youth Summer Conference) tanggal 19-21 Juni di Stavern. Stavern adalah kota yang indah dengan pemandangan lautnya. Sungguh, tempat yang indah untuk menghabiskan musim panas dan tempat yang menarik untuk penyelenggaraan konferensi.

Fagforbundet adalah organisasi serikat pekerja terbesar anggota dari LO (The Norwegian Confederation of Trade Unions), dengan jumlah anggota sebesar 300.000 orang. Anggota mereka bekerja baik di pemerintah kotamadya atau di sektor swasta dan juga yang bekerja di rumah sakit. Mereka juga menerima siswa/mahasiswa yang sedang magang kerja. Kelompok anggota muda mereka cukup banyak, tetapi saya lupa menanyakan berapa besar jumlahnya. Untuk kelompok orang muda mereka terdaftar dalam Fagforbundet Ungdom. Ungdom artinya orang muda atau pekerja muda. Kegiatan mereka cukup aktif, baik kegiatan peningkatan kesadaran (awareness training) ataupun kegiatan perekrutan anggota baru. Salah satu kegiatan yang menarik adalah kegiatan konferensi musim panas ini. Kegiatan ini telah diselenggarakan selama empat tahun berturut-turut, dan tahun ini adalah penyelenggaraan ke-empat. Kegiatan dikemas dalam program yang menarik, atraktif dan interaktif, baik diselenggarakan dalam ruangan atau luar ruangan sambil menikmati hawa hangat matahari (Terus terang, belum pernah saya semenikmati matahari seperti waktu di Stavern ini. Negara kita kaya dengan curahan sinar matahari, tapi panasnya minta ampun. Tetapi tetap beruntung karena kita bisa menikmati gelap dan bulan. Matahari selama musim panas di negara itu terbit lebih lama, sampai sampai kita tidak tahu apa perlu tidur malam atau tidak karena langitnya masih terang walaupun sudah tengah malam). 

Kepadatan serikat pekerja (union density) di negara itu cukup tinggi, yaitu antara 60-70% dari total semua tenaga kerja (coba bandingkan dengan negara kita yang hanya antara 4-7% saja). Memang sejarah pergerakkan serikat pekerja mereka lebih lama dan berkembang. Tetapi jangan salah, sejarah pergerakkan perburuhan kita juga dimulai pada abad 19 (pada tahun 1908 lahir Vereniging Spoor-Traam Personeel (VSTP) dipimpin oleh Semaoen). Saya tidak akan mengulas sejarah pergerakkan serikat pekerja/serikat buruh atau pergerakkan perburuhan di Indonesia (terus terang belum mampu dan belum memiliki sumber (referensi) yang jelas), tetapi hanya memberitahukan bahwa kesadaran berorganisasi bagi pekerja/buruh di Indonesia adalah rendah. Mengapa dinegara maju lebih tinggi (di negara Skandinavia union density-nya termasuk tinggi, di Swedia dan Finlandia bisa mencapai 80– 90% pekerja bergabung dengan serikat pekerja), dan banyak dinegara berkembang khususnya Asia dan Indonesia adalah rendah? Apakah ada yang salah dengan serikat pekerja dan pekerja kita? Atau prinsip/nilai serikat pekerja sudah tidak relevan lagi di jaman sekarang bagi pekerja Indonesia?

Serikat pekerja bukan seperti kelompok musik pop atau rock! Yang dengan mudah populer ketika lagu hit mereka dengan terus menerus dinyanyikan dan memiliki sekelompok pengikut yang dengan setia mengikuti kemanapun band itu manggung. Menjadi anggota serikat pekerja adalah keharusan, terutama dimasa sekarang, masa dimana dengan mudah/gampang pekerja mengalami ketidakadilan dan pemecatan dengan semena-mena dengan alasan krisis keuangan tetapi sebenarnya hanya ingin mengganti kita dengan pegawai kontrak atau pekerja harian dengan upah murah.

Siapa yang tidak kenal Albert Einstein, seorang ilmuwan terkemuka, dan yang terpenting adalah dia juga anggota serikat pekerja! Beliau juga termasuk anggota pendiri Federasi Serikat Pekerja Guru Princeton Lokal 552 (the Princeton Federation of Teachers Local 552), dan beliau menanda tangani kesepakatan (Charter) pada tahun 1938 . einsteinCoba bayangkan orang sepandai (jenius) dan terkenal seperti Einstein masih memerlukan serikat pekerja. Melissa Gilbert , pemeran utama film serial keluarga terkenal “Little House on the Prairie” (dia memerankan diri sebagai Laura Ingalls) adalah mantan presiden serikat pekerja para aktor/aktris (Screen Actors Guild) dari tahun 2001-2005, dan beliau juga pernah menjabat wakil presiden dari The American Federation of Labor and Congress of Industrial Organizations (AFL-CIO). Coba bayangkan orang setenar dia dan para aktor/aktris lainnya di Hollywood masih membutuhkan serikat pekerja? Kenapa kita yang hanya menerima upah minimum dan terekploitasi masih belum sadar betapa pentingnya bergabung dengan serikat pekerja?

Kalau kita analisa dari dua figur terkenal diatas, ukuran mereka menjadi anggota serikat pekerja bukanlah besaran upah yang mereka terima (ini sebenarnya juga termasuk, karena serikat pekerja menentukan juga berapa standar upah mereka dan memperjuangkan kenaikan upah mereka), tetapi mereka tahu bahwa dengan memiliki serikat pekerja dan menjadi anggota serikat pekerja martabat mereka ditempat kerja dilindungi dan dihargai. Besaran upah yang kita miliki atau seberapa tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki selama kita masih menyandang status sebagai pekerja/buruh/karyawan/pegawai tetap saja kita adalah orang upahan!

Indonesia secara hukum telah mengesahkan Konvensi ILO No. 87/1948 yang bisa menjadi referensi dasar hukum perlindungan hak berorganisasi dan hak berserikat. UU No. 21/2000 tentang serikat pekerja/serikat buruh juga memberikan ruang dan perlindungan pada setiap pekerja untuk mendirikan dan bergabung dengan serikat pekerjanya. Konvensi ILO No. 98/1949 tentang hak berorganisasi dan hak untuk melakukan perundingan kerja bersama juga telah diratifikasi, konvensi ini memberikan peran perlindungan yang lebih luas dan hak serikat pekerja atas nama pekerja untuk melakukan perundingan dengan manajemen untuk perbaikan dan peningkatan syarat-syarat dan kondisi kerja. Ingat hak ini hak istimewa!, karena hak berunding dengan manajemen hanya dimiliki oleh serikat pekerja bukan asosiasi profesi.

Trade Union is not just about voice but power of freedom and collective action. Serikat pekerja adalah kekuatan demokrasi dan kekuatan kolektif yang signifikant. Dan pekerja dimanapun juga adalah kekuatan ekonomi. Ini sungguh suatu hal yang dasyat kalau peran serikat pekerja dimainkan dengan benar, dengan kombinasi kekuatan yang dimiliki tentunya akan memberikan pengaruh secara politik dan ekonomi. Tetapi kekuatan dasyat ini tentunya membutuhkan anggota yang banyak, dan partisipasi yang luas dan tinggi dari anggotanya sehingga serikat pekerja dapat memainkan peranan pentingnya.

Kenaikan gaji, tunjangan, bonus dan sebagainya. Apakah yang terpikir oleh kita? Ah, itu semua karena ”kebaikan” manajemen karena memang kita sudah selayaknya mendapatkan. Dijaman matelistik dan kapitalisme yang serakah tidak ada namanya pemberian cuma-cuma biarpun itu seharusnya menjadi hak anda sebagai pekerja. Jaman sekarang hak harus selalu dijaga, diperjuangkan bahkan harus direbut biarpun mereka tahu bahwa kita adalah pemiliknya. Jadi semua hal yang baik yang kita dapatkan ditempat kerja bukanlah pemberian tetapi adalah hasil kerja keras serikat pekerja, mereka melakukan perundingan untuk perbaikan dan kenaikan kondisi kita ditempat kerja. Lha ini enaknya jadi anggota serikat pekerja di Indonesia, aktif maupun ngak aktif mendapatkan hal yang baik yang diperjuangakan oleh serikat pekerja. Union security memang tidak berlaku di Indonesia. Union security adalah hak istimewa yang dimiliki oleh serikat pekerja untuk melindungi hal baik yang diperjuangkan bagi anggotanya, hanya anggota yang mendapatkan manfaat atas hasil kerja serikat pekerja. Makanya tidak heran banyak Free Rider (penumpang gratisan) yang ikut menikmati biarpun kebanyakan dari mereka adalah tidak aktif atau bahkan termasuk kelompok orang yang anti-serikat pekerja.

Peran tradional serikat pekerja adalah melakukan perundingan atas kondisi dan syarat kerja. Tetapi serikat pekerja sektor publik memiliki peran lebih dari itu, termasuk bagaimana menjaga agar perusahaan tidak diprivatisasi atau dijual kepemilikan sahamnya melalui publik (IPO). Dan juga bagaimana kita juga harus menjaga dan meningkatkan kualitas layanan publik (Quality Public Services). Perubahan-perubahan ditempat kerja tentunya akan berpengaruh sangat luas bagi pekerja. Coba bayangkan betapa rumitnya nasib kita ditempat kerja ketika pemilik perusahaan berubah-berubah, apa yang akan terjadi ketika perusahaan kita diprivatisasi? Yang jelas pekerja akan mengalami PHK massal, dan tentunya kalaupun diminta bekerja lagi itupun dengan melupakan masa kerja (atau mulai dari 0 tahun). Sering peran ini menjadi konflik, dan manajemen tidak membayangkan bahwa serikat pekerja memiliki peran yang begitu luas. Karena hubungan ditempat kerja masih diterjemahkan sebagai hubungan kekuasaan, atasan dan bawahan (master-servant relationship). Peran ini sudah berubah dan manajemen tidak menyadari (atau sebenarnya tidak mau menerima). Sering keputusan dan tindakan manajemen yang sembrono merugikan perusahaan, merugikan pekerja. Kesalahan mengelola (mismanagement) dan korupsi marak. Tentunya menjadi keprihatinan kita, karena apapun yang terjadi ditempat kerja kitalah yang menanggungnya. Peran serikat pekerja adalah juga peran keterwakilan dan peran mewakili kepentingan pekerja ditempat kerja, segala apa yang terjadi dan akan terjadi berdampak terhadap pekerja, mereka akan menyuarakan dan membelanya. Serikat pekerja bukan hanya sekedar ideologi tetapi contoh nyata bagaimana seharusnya teori manajemen dijalankan. Manajemen yang demokratis, adil dan bertanggung jawab.

Delapan jam kerja, delapan jam rekreasi, delapan jam istirahat. Itulah seharusnya sirkulasi 24 jam pengaturan hidup kita. Tetapi banyak dari kita bekerja lebih dari jam tersebut atas nama overtime untuk mencukupi kebutuhan hidup atau bekerja sambilan karena memang upah kerja utama kita tidak cukup untuk biaya hidup. Kita wajib berterima kasih kepada para pendahulu yang berjuang untuk mendapatkan. Makanya konvensi ILO yang pertama (No. 1/1919) adalah tentang pengaturan jam kerja. Saya juga pernah merasakan kerja malam, tetapi saya tidak bisa membayangkan ketika bekerja lebih dari 10 jam non-stop. Saya naik Thai Air dalam perjalanan menuju Oslo, Norwegia. Perjalanan tersebut ditempuh selama hampir 12 jam dari Bangkok ke Olso. Sungguh perjalanan yang melelahkan biarpun hanya duduk dan menikmati layanan ramah dan cekatan dari flight attendant. Saya sempat berbincang dengan salah seorang dari mereka, karena kebetulan saya duduk deretan depan, sehingga ketika take-off dan landing didepan saya adalah kursi untuk crew. Dia bilang, setelah terbang sekian lama, mereka hanya istirahat semalam dan kemudian terbang balik ke Bangkok. Dia bilang karena alasan krisis, yang seharusnya mereka ”memiliki” hak untuk istirahat paling tidak 2 atau 3 hari setelah sekian kilometer terbang hanya diganti sehari saja. Lebih lanjut dia bilang, tidak ada pilihan lain selain menerima apa yang seharusnya menjadi aturan. Banyak orang menilai pekerjaan flight attendant adalah hanya sekedar melayani penumpang saja, iya itu benar. Tetapi peran pekerjaan utama mereka adalah menyediakan layanan perlindungan keselamatan penerbangan (the nature of work of flight attendants are provides safety and security). Mereka harus menjalankan serangkaian training dan re-training untuk mendapatkan sertifikat kelulusan dan kelayakan untuk terbang. Tidak mudah untuk menjadi pekerja, tetapi sering betapa rendahnya manajemen menghargai pekerjaan dan hasil kerja kita. Kadang benar juga dengan istilah kita berada pada jaman perbudakan modern. Berbeda masa dan cara tetapi bentuk dan tindakannya sama.

Krisis keuangan global saat ini telah membawa lebih dari 239 juta orang mengganggur (perkiraan ILO, 2009). Diperkirakan lebih dari 1,2 milyar pekerja didunia hidup dengan keluarganya dalam kondisi miskin. Dan lebih dari 620 juta orang didunia hidup sangat miskin (extreme poverty), dimana penghasilan harian mereka adalah USD 1,25. Sungguh, krisis ini mengancam kehidupan dan kesehatan jutaan umat manusia. Tetapi krisis juga memberikan banyak keuntungan bagi beberapa perusahaan makanan cepat saja, karena mereka menyediakan makanan dengan harga murah. Menurut penelitian di Amerika, banyak orang miskin tetapi mereka gendut. Gendut disini bukan karena tanda makmur tetapi karena tidak sehat, karena kemampuan daya beli makanan mereka adalah ditempat restauran cepat saji. Bukan memakan makanan yang sehat dan layak untuk kesehatan. Saya juga ingat ketika kursus di Inggeris, karena uang saku sedikit, kita banyak mengkonsumsi makanan cepat saji, juice dan susu. Memang hasilnya gemilang, langsung tambah berat badannya tetapi karena kadar garam dalam tubuh naik. Makanan yang sehat dan sesuai dengan standar gizi adalah mahal, apalagi sekarang trend makanan/minuman organik. Tentunya penghasilan kita tidak hanya untuk makan saja tetapi juga kebutuhan lainnya. Kalau menurut ukuran pak Maslow (Abraham Maslow), hirarki kebutuhan manusia tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan badaniah saja, makan dan minum, tetapi juga harus sampai jenjang yang paling tinggi yaitu aktualisasi diri. Sering uang kita tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, banyak dari kita bekerja tetapi miskin (working poverty). Biaya hidup meningkat tetapi nilai uang terus turun. Sering kenaikan upah ditempat kerja bukanlah kenaikan tetapi adalah penyesuaian kebutuhan biaya hidup, dan itupun dengan cukup susah payah serikat pekerja memperjuangkannya. Cukup beruntung kita hidup di Indonesia yang memiliki tatanan pengamanan sosial yang baik tetapi ditanggung oleh keluarga bukan pemerintah atau pengusaha. Mereka tidak peduli apa kita hidup layak atau tidak.

Serikat pekerja memberikan kekuatan kita sebagai pekerja untuk berbicara (power to speak) atas nama diri kita sendiri. Banyak yang belum menyadari betapa pentingnya bergabung dengan serikat pekerja, karena memang mereka tidak tahu, tidak peduli ataupun takut bergabung. Pekerja selalu dalam posisi yang lemah, tidak peduli betapa besar kedudukan dan pendidikan yang kita miliki, kalau kita masih dalam kategori orang upahan. Kita membutuhkan organisasi serikat pekerja untuk mewakili dan melindungi kepentingan kita ditempat kerja. Kalau memang tidak mau bekerja telanjang (Jobber du naken)? Bergabunglah dengan serikat pekerja, pilih pemimpin yang benar-benar mau bekerja untuk kita. Bukan pemimpin dan orang yang hanya berani bicara banyak tetapi tidak melakukan apa-apa untuk serikat pekerja kita.

One thought on “Jobber du naken?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s