Jepang: Era Perubahan Dari Timur dan Peranan Serikat Pekerja

hatoyamaPartai Demokrat Liberal (LDP) setelah hampir lima puluh tahun berkuasa di Jepang akhirnya ditaklukan oleh lawan politiknya Partai Demokrat Jepang (DPJ) pada pemilu yang diadakan minggu kemarin (30 Agustus 2009). Kemenangan yang didapatkan oleh DPJ adalah cukup telak dengan perolehan 308 kursi dari 480 kursi di Majelis Rendah (Lower House).

DPJ adalah partai oposisi terbesar, dengan persiapan yang matang dan juga ditambah dengan situasi rakyat Jepang yang sudah “frustasi” dengan kondisi kemunduran perekonomian dan tingginya angka penggangguran dibawah kepemimpinan partai berkuasa LDP. Banyak pernyataan muncul bahwa era perubahan yang pro-rakyat akan terjadi di Jepang. Dengan slogan perubahan Pemimpin Oposisi DPJ Yukio Hatoyama mengatakan sekaranglah saatnya bagi Jepang untuk berubah. ”Telah tiba hari untuk mengubah sejarah Jepang. Mari melangkah menuju era baru dengan semangat,” katanya. (Kompas, 19/08/2009). Dengan slogan perubahan dia dengan lantang menjanjikan akan memotong pemborosan anggaran, mengurangi pajak minyak dan jalan tol, serta mengurangi kekuasaan birokrat.

Yukio Hatoyama akan dilantik sebagai Perdana Menteri Jepang pada 16 September ini, dalam pidato kemenangannya dengan tegas dia mengatakan “look more towards Asia, and less to US”. Dalam kritiknya yang dipublikasikan oleh The New York Times dia mengatakan “US-style capitalism and market fundamentalism which he called void of morals which harmed people’s lives” (gaya ekonomi Amerika Serikat yang berhaluan kapitalisme dan sifat fundamentalis pasar adalah tidak bermoral dan merugikan hidup banyak orang).

Kemenangan partai oposisi DPJ ini adalah juga karena dukungan yang kuat dari serikat pekerja Jepang (untuk mendapatkan dukungan serikat pekerja, DPJ mengadakan pertemuan dengan Rengo (Pusat Serikat Pekerja Jepang) pada bulan Juli guna membuat kesepakatan kunci mendapatkan dukungan kuat dari serikat pekerja). Selama ini kebijakan pro-bisnis yang diterapkan partai berkuasa DPJ sangat memberatkan serikat pekerja di Jepang untuk memperbaiki syarat-syarat dan kondisi kerja para pekerja. Kampanye pro-rakyat untuk perbaikan kesejahteraan (social welfare) menjadi alasan kuat serikat pekerja untuk mendukung partai oposisi DPJ ini. Dalam kesepakatan tersebut diatas Partai Oposisi DPJ berjanji akan mengurangan jurang perbedaan antara kaya dan miskin, menciptakan lapangan kerja baru bagi 1,8 juta orang, menguatkan regulasi dan pengawasan pasar keuangan internasional dan meningkatkan taraf pendapatan dan kondisi para pekerja harian lepas yang oleh media sering disebut dengan kelompok pekerja yang miskin (working poor).

Rengo (Japanese Trade Union Confederation) adalah pusat serikat pekerja di Jepang, dengan jumlah anggota yang mencapai 6,8 juta orang. Dengan kekuatan jumlah anggota yang demikian signifikan tersebut tentunya menjadi sekutu yang kuat bagi partai oposisi DPJ untuk mendapatkan suara. Mereka bekerja keras untuk memenangkan pemilu ini. Kampanye untuk menempatkan prioritas utama kesejahteraan hidup rakyat pada kebijakan pemerintah (“People’s Lives First”) menjadi slogan bersama. Dengan semangat dan kesungguhan kuat Rengo mengadakan kampanye kepara anggotanya dengan slogan “the Summer of the Shift in Power” (Musim Panas ini Ganti Kekuasaan). Keinginan serikat pekerja untuk menganti pemerintahan adalah sangat kuat, kondisi ekonomi yang semakin terpuruk dan keterdesakan untuk segera menerapkan kerja yang layak (decent work) dan keseimbangan antara kerja dan kehidupan (work-life balance). Dan juga keamanan pekerjaan (security of employment) adalah juga menjadi subjek isu yang kuat untuk pencapaian stabilitas dan jaminan sosial yang lebih baik.

Tentunya buah manis ini akan segera bisa diterima oleh serikat pekerja dan para pekerjanya di Jepang, ketika partai oposisi yang akan segera berkuasa ini memegang tampuk kekuasaan “the politics of the people, by the people and for the people”.

Sungguh ini suatu pembelajaran menarik bagaimana seharusnya hubungan serikat pekerja dan partai politik, yang tidak hanya sekedar politik dagang sapi dan kepentingan individu pemimpin masuk parlemen tetapi kepentingan untuk mengubah tatanan dan aturan yang lebih baik bagi masyarakat. Serikat pekerja adalah kekuatan politik ekonomi, tetapi pemahaman kita para pemimpin dan aktifis buruh di Indonesia masih sekedar pencapaian kepentingan pribadi. Pada pemilu kita tahun ini muncul banyak pemimpin dan aktifis buruh menjadi caleg tetapi menurut hemat saya tidak lebih karena jabatan dan fasilitas yang didapatkan nantinya ketika menjadi anggota parlemen. Memang partai politik dan serikat pekerja di Indonesia masih dalam tahapan kepentingan kebutuhan (individu) saja, belum menjadi gerakan politik institusi organisasi untuk menguatkan regulasi dan kebijakan yang berpihak pada pekerja/buruh dan masyakat. Kerjasama serikat Pekerja dan partai apakah mungkin? Contohnya Jepang dan banyak negara di Eropa menerapkan hubungan kerjasama ini, sebagai institusi organisasi mereka adalah badan yang berbeda tetapi memiliki sejarah tujuan yang sama. Dukungan yang mereka berikan tidak hanyak suara dalam pemilu tetapi juga dukungan kontribusi dana (ini sebaliknya dengan Indonesia). Di Norwegia , Partai dan LO (The Confederation of Trade Union) telah bekerjasama dengan erat untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat.

Dalam tulisan saya yang lampau “aktifis serikat buruh dan pemilu 2009: kesempatan atau jebakan”, bahwa kerjasama partai dan serikat pekerja pernah terjadi dan kuat pada era 1950-an sehingga menghasilkan produk hukum yang berpihak bagi pekerja/buruh. Pertanyaannya adalah kenapa sekarang tidak bisa? Sebagai kekuatan ekonomi politik nampaknya serikat pekerja di Indonesia malah menunjukkan kelemahannya yaitu dengan menggantungkan (dibaca: meyerahkan) kekuatannya pada partai politik yang ada. Coba lihat aturan yang tidak ada untuk melindungi para buruh migrant Indonesia diluar negeri, tumbuh maraknya outsourcing dan privatisasi sektor strategis milik negara. Kita semua tahu tentang konsep keadilan sosial bagi semua, yang bukan diterjemahkan bagi kepentingan perorangan atau kelompok.

Maraknya kapitalisme dan pasar bebas adalah sungguh memprihatinkan masa depan kita, badai krisis keuangan yang kita alami saat ini karena kegagalan praktek yang mereka terapkan itu. Tentunya angin perubahan yang akan terjadi di Jepang memberikan harapan masa depan yang lebih baik. Dan jangan lupa serikat pekerja berperan besar dalam kemenangan itu! Kita harus belajar dari mereka, tetapi tidak perlu menunggu lima puluh tahun untuk mengubah itu.

Sumber:

  1. Japan election winners, govt work on power shift
  2. Party and trade union cooperation
  3. At the End of the 45th General Election That We Aimed at a Change of Government

3 thoughts on “Jepang: Era Perubahan Dari Timur dan Peranan Serikat Pekerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s