Surat terbuka untuk SP PLN: Mereka yang memberikan martabat baik ditempat kerja!

Tulisan ini merupakan balasan email untuk seorang sahabat baik, dan sekarang menjadi surat terbuka bagi anda semua teman-teman anggota SP PLN (Persero). Semoga dapat menjadi renungan yang dalam, agar lebih mengenal serikat pekerjanya dan bangga menjadi bagian dari pergerakannya. Mengenal serikat pekerja adalah tidak hanya sekedar hanya mengetahui apa yang ada saat ini, tetapi apa yang telah terjadi dimasa lalu dan siapa orang-orang yang terlibat didalamnya serta nilai-nilai yang mereka anut dan bawa. Karena inilah yang membuat kita harus kembali ke jatidiri awal pergerakan kita. Berani berorganisasi adalah komitmen menjunjung nilai, menghormati dan meneruskan nilai tersebut, dan yang terpenting adalah menghormati mereka yang benar-benar memberikan sejarah baik bagi organisasi kita dan melanjutkannya.

Seperti kata sahabat baik saya dalam email balasannya, banyak yang terpanggil tetapi sedikit yang dipilih. Itu adalah benar, sehingga anda sendiri bisa menilai siapa mereka yang berjasa pada kita. Hendaklah kita patut mengucapkan terima kasih, mengingatnya selalu!

Tulisan dalam surat terbuka ini lebih bersifat filososi organisasi, sehingga berupa pertanyaan-pertanyaan  dan menuntut saya untuk mengingat daripada menjawab pertanyaan tersebut. Dan akan juga menuntut anda untuk mengenal organisasi anda sendiri, semoga berguna!

==============================================================

Salam solidaritas,

apa itu serikat pekerja? dan mengapa serikat pekerja didirikan? mengingat sejarah pendirian SP PLN tentunya tidak bisa dilupakan dalam ingatan saya betapa pendiri organisasi ini Almarhum Pak Hasrin Hutabarat, Pak Daryoko dan Pak Slamet Raharjo memiliki nilai yang masih saya ingat sampai saat ini.  Baru setahun serikat pekerja ini didirikan, saya yang waktu itu baru saja ditunjuk menjadi koordinator PSI Indonesia (September 1999) mengadakan pertemuan dengan pak Daryoko dan almarhum Pak Hasrin. Mereka berdua mengatakan nilai yang sampai saat ini saya masih ingat

“pondasi jatidiri organisasi ini akan membangun martabat pekerja ditempat kerja, karena serikat pekerja ini adalah mandiri dan demokratis, kepentingan pekerja disuarakan dan kesejahteraan mereka diperbaiki melalui PKB bukan melalui peraturan perusahaan yang seperti sekarang ini!kita tidak mau lagi seperti jamannya KORPRI!

Saya rasa tidak banyak dari anggota atau pemimpin yang masih ingat kata-kata tersebut.  Saya, yang waktu itu masih muda, masih berumur 27 tahun, memegang pekerjaan penting dan membawa bendera organisasi internasional Public Services International (PSI), menjadi berkobar semangatnya. Dan berdasarkan keikutsertaan saya dalam beberapa kegiatan SP PLN selalu saja saya mendengar nilai ini dan ingin ditularkan kepada para anggota.

Apa yang telah serikat pekerja lakukan untuk kita? Pasti banyak yang menjawab tidak tahu, karena hal-hal baik (kesejahteraan termasuk keamanan pekerjaan….untung PLN masih holding karena kemenangan di MK tahun 2004 terhadap UU Kelistrikan, kalau tidak pasti yang didaerah sudah jadi pegawai pemda!) yang diperjuangkan oleh serikat pekerja diterjemahkan sebagai pemberian pengusaha. Ini tragis dan nyata, kalau mengingat karakter kita sendiri, kita mudah mengucapkan terima kasih tetapi lupa siapa yang pernah kita beri ucapan itu.

Dan ketika hal hal buruk yang terjadi yang sebenarnya dilakukan oleh manajemen (atau pemerintah) kesalahan ditimpakan ke serikat pekerja.  Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dalam pergerakan serikat pekerja adalah bagian dari heart and mind (hati dan jiwa), saya melihat perubahan besar atas kesejahteraan karyawan PLN setelah memiliki serikat pekerja, tidak hanya sekedar kesejahteraan tetapi juga keamanan pekerjaan.

Berdasarkan pertanyaan diatas, saya bisa menggembangkan lagi dan bisa menjadi retreat kita….apa yang telah saya dan teman-teman lakukan untuk serikat pekerja ini?

Mengapa SP PLN kuat? Sejak awal didirikan SP PLN sadar bahwa mereka memiliki kekuatan kolektif yang bisa menopang kekuatan serikat pekerja sebagai kekuatan bargaining (political economic through their members). Disamping itu organisasi ini juga menyadari bahwa selain menjalankan perlindungan dan memperbaiki kesejahteraan anggotanya, serikat pekerja ini menyadari perannya sebagai serikat pekerja publik sektor yang tidak hanya sekedar menjalankan peran tradisional saja untuk perbaikan upah dan syarat-syarat kerja tetapi bagaimana lebih berani dalam menjalankan peran politisnya dalam pembelaan dan mempertahankan kepentingan publik (dan ini sebenarnya adalah bagian dari melindungi kepentingan pekerjaannya sendiri, apalah jadinya ketika perusahaan atau pemerintah menjalankan privatisasi perusahaan ini….bagaimana nasib karyawannya? bagaimana nasih kesejahteraannya? bagaimana masa depan karyawan ini ketika kepemilikan usaha diubah? dan sebagainya?)

SP PLN sejak awal menjadi ujung tombak pembelaan atas kepentingan listrik untuk rakyat dan harus dikelola oleh pemerintah. Perjuangan untuk mempertahankan satu PLN dan visi listrik untuk rakyat tidak mudah, karena kepentingan ekonomis dengan skala pasar yang besar dan potensi listrik itu sendiri yang menjadi konsumsi harian masyarakat modern menjadikan perusahaan ini usaha empuk pihak-pihak pemilik modal untuk menjadikan listrik sebagai komoditas profit. Sedangkan SP PLN, dan saya masih ingat lagi dalam pertemuan dengan pak Daryoko dan almarhum Pak Hasrin…mereka berdua mengatakan listrik adalah bentuk layanan sosial sesuai dengan amanat UUD 1945….sehingga pembelaan dan perjuangan atas UU kelistrikan yang menentang UU 1945 adalah menjadi pondasi/nilai dasar dari perjuangan SP PLN. Dan inilah yang menjadikan SP PLN kuat!

Anggota bangga menjadi bagian kekuatan ini, tetapi banyak juga yang tidak tahu mengapa harus melakukan hal ini (dibaca melawan (diartikan lagi sebagai bertentangan dengan) manajemen dan pemerintah). Karena SP PLN kuat dan mampu melawan hegemoni kekuasaan maka selalu saja ada gangguan untuk melemahkannya…baik datang dari manajemen dengan menggunakan kewenangannya ataupun datang dari pemimpin/anggota serikat pekerja itu sendiri yang ingin melemahkan organisasinya sendiri demi kepentingan jangka pendek sesaat: kenaikan pangkat, promosi, jabatan atau ingin dianggap baik oleh manajemen.

Bagi yang paham organisasi ini sejak awal, pasti akan paham bahwa telah terbangun gerakan pekerja di organisasi ini. Karena merekalah yang membangun gerakan ini, tetapi organisasi ini dan pemimpinnya juga menyadari banyak yang terlibat tetapi hanya sekedar ikut-ikutan dan menggunakannya untuk melindungi kepentingannnya. Makanya bisa dilihat sampai sekarang siapa yang masih setia dan konsisten dengan perjuangan/nilai awal organisasi ini.

Dari pertanyaan diatas maka bisa dibuat pertanyaan, siapa yang ingin melemahkan organisasi ini? apakah kita (anda) sendiri yang ingin melakukannya? mengapa kita ingin melakukannya? Banyak pekerja yang bangga dengan pekerjaannya, tetapi tidak sadar bahwa mereka hanyalah orang upahan. Orang upahan harusnya bergabung dengan orang upahan bukan seharusnya memisahkan diri dan memerangi sesama orang upahan (atau pura-pura bukan orang upahan dan malah mengaku manajemen??? inilah yang menjadi celaka!).

Banyak serikat pekerja didirikan tetapi banyak serikat pekerja kuning, dibentuk (atau dibuat) berdasarkan kepentingan manajemen dan pemerintah, sehingga pemimpin mereka adalah pemimpin kuning juga. Ada PKB tetapi tak ubahlah PKB tersebut adalah bentuk legitimasi peraturan perusahaan yang adalah bersifat kepentingan sepihak (manajemen).

Serikat pekerja adalah membangun demokrasi industri, demokrasi ditempat kerja. Tetapi banyak manajemen tidak menyukainya, sehingga selalu saja memerangi serikat pekerja. Dan celakanya yang dulu mereka menggunakan “tangan” mereka sendiri sekarang meminjam tangan pekerja untuk memerangi organisasinya. Sehingga orang upahan ini diadu dan celakanya ngak sadar kalau diadu, sehingga mereka ini yang menghancurkan organisasinya sendiri.

Pasti, manajemen bertepuk tangan dan mengajak bersalaman pekerja yanga dipinjami tangannya ini dan mengatakan kita “telah membangun hubungan industrial yang harmonis” padahal hanya sekedar kamuflase dan mempertahankan hegemoni dengan membuat aliansi kekuasaannya dengan merangkul pekerja itu. Agar pekerja ini bungkam (dibungkam) dan juga “serikat pekerjanya” (maksudnya serikat pekerja kuning!)) dan kepentingan hegemoni ini sukses. Tetapi setidaknya perusahaan memiliki “citra memiliki serikat pekerja dan memiliki PKB (dan telah ditanda tanganin)”. dan pekerja ini juga lupa bahwa mereka akan ditinggalkan karena kepentingan penguasa ini telah terpenuhi….many of workers sold their soul to the “devil”…atau mereka telah menjual organisasinya, organisasi serikat pekerja yang telah mereka bangun dengan usaha keras dan dengan nilai perjuangan yang gigih.

Maka saya jadi ingat lagu serikat pekerja yang saya posting di blog ini!..

Our newest enemy is our Sister or Brother, Ignorance says we fight each other. These back-stabbing people are so confused….They’re not Union Members, they just pay their dues. Members don’t tell on their Brother, man. Or refuse to help when they know they can!

Musuh terdekat kita adalah rekan sendiri, saudara-saudari kita sesama pekerja. Ketidaktahuan ini menjadikan kita memerangi satu sama lain. Orang-orang yang menusuk ini sungguh membuat kita bingung
Mereka bukanlah aktifis serikat buruh, mereka hanya membayar iuran saja (atau bahkan tidak)
jangan katakan pada anggota bahwa kau bagian dari serikat pekerja ini karena akan menolak untuk membantu jika mereka tahu mereka bisa!)

Serikat pekerja (asli) adalah agen perubahan, agen hak asasi manusia, agen demokrasi dan keadilan, agen pembelaan terhadap rakyat atas hegemoni kapitalis. Kita patut bangga menjadi bagian dari pergerakkan tersebut. Sistem organisasi yang kuat hendaknya harus dibangun dan tertata, karena gerakkannya yang panjang dan berkelanjutan.

Organisasi ini juga mengajarkan pada kita bagaimana demokrasi mengajarkan kita untuk menghormati konstitusi dan menjalankan amanat lembaga tertinggi organisasi ini yaitu Musyawarah Besar/Musyawarah Nasional. Inilah yang harus menjadi kunci pokok anggota dan pemimpin dalam menjalankan amanah organisasi ini.

Anggota serikat pekerja dan pemimpinnya seharusnya memikirkan bagaimana seharusnya organisasi ini menjadi kuat dan bertambah kuat dengan membawa nilai dan perjuangan awal organisasi ini dibangun. Tetapi banyak yang lupa, ketika banyak orang yang pernah memerangi serikat pekerja tiba-tiba muncul menjadi “aktifis” dan melakukan klaim bahwa telahmelakukan” hal yang baik buat organisasi atau bahkan menjadi pemimpin….ini ibaratnya free rider who stolen the ride….orang yang kita beri tumpangan gratis ngambil mobil/motor kita!

Kalau memang kita benar-benar menyakini proud to be union, seharusnya kita berpikir lebih luas dan dalam untuk kepentingan jangka panjang pekerja (bukan asumsi dan juga bukan penyalahgunaan), bukan malah memerangi organisasinya dan mencari “ketidakbenaran” organisasinya. Banyak agenda-agenda besar dibalik semua masalah kecil yang dipersoalkan yang sebenarnya secara konstitusional adalah hak pekerja untuk menjalankan organisasinya dan mengelola administrasi organisasinya.

Serikat pekerja juga mengajarkan kita, bukan maunya kita tetapi apa maunya mereka? mereka disini adalah anggota (pekerja), manajemen atau pemerintah. anggota (pekerja) mengajari organisasi kita bahwa kita adalah orang upahan tetapi berorganisasi serikat pekerja memberikan kita martabat ditempat kerja: keterwakilan, suara yang disampaikan, perlindungan, perjuangaan dsb.

Manajemen dan pemerintah, mengharuskan kita mempunyai sikap karena martabat ditempat kerja yang kita ajukan! bersikap belum selalu harus ada konflik, harmoni belum tentu tidak ada konflik. karena gerakan serikat pekerja tidak hanya sekedar gerakan massa tetapi gerakan ekonomi dan politik (political economy movement!).

Untuk mengakhiri surat terbuka ini, saya ingin mengajukan pertanyaan akhir? mau kita (anda) bawa kemana organisasi kita? ketika dengan jelas organisasi ini didirikan dengan membawa nilai-nilai baik dan tetap dipertahankan oleh orang-orangnya, yang tetap memiliki komitment untuk menjalankan konstitusi organisasi dan amanat organisasi tertinggi ini yaitu musyawarah besar/musyawarah nasional.

Tetapi, pengalaman juga mengajarkan “ketidakbaikan” karena kita ingin melakukan manipulasi dan pembenaran atas kepentingan kita bukan kepentingan bersama dan organisasi.

SP PLN yang saya kenal memiliki legacy (warisan) yang baik, dan saya bangga menjadi bagian dari pergerakan ini sejak awal dan sampai sekarang! Konsistensi nilai dan pergerakan awal inilah yang membuat saya secara pribadi mendukung sepenuhnya perjuangan organisasi SP PLN. Dan saya ingin sekali lagi menjadi bagian dari kemenangan SP PLN dalam judicial review UU kelistrikan No. 30/2009!

Saya yakin akan perkataan Friedrich Engels bahwa ‘as schools of war, the unions are unexcelled’(sebagai sekolah perang, serikat pekerja tidak terkalahkan). But, it won’t be easy, but I know we’re able. Being strong takes more than a few, It takes everyone, and that includes you!! (ini tidak akan mudah saudara, tapi kita tahu bahwa kita mampu. Menjadi kuat memang memakan waktu lebih dan kekuatan ini membutuhkan semua orang, dan itu termasuk Anda!)

Saya harus benar-benar mengakhir surat terbuka ini, tetapi saya ingat perkataan Ms. Judy Darcy, mantan ketua umum Canadian Union of Public Employees (CUPE, tahun 1991-2003), sungguh beruntung saya memiliki kesempatan ketemu beliau waktu ikut magang pada bulan Maret tahun ini:

‘Workers need to know about the battles our foremothers and forefathers waged to win workplace and broader social rights that many take for granted today. They need to know how they got these rights in the first place (Ms. Judy Darcy, CUPE President 1991-2003)

….para pekerja perlu mengetahui jerih payah perjuangan para pemimpin masa lalu mereka bagaimana mereka memenangkan kepentingan upah kita dan hak-hak sosial kita ditempat kerja, banyak yang tidak tahu dan hanya sekedar mengambilnya. Mereka (pekerja) perlu mengetahui bagaiman kepentingan mereka diperjuangkan (apa yang kau dapat saat ini bukan pemberian TAPI PERJUANGAN!)

Intinya adalah ingatlah sejarah dan orang-orang yang membuat sejarah baik itu, sehingga kita bisa menikmati berkat kenikmatan seperti sekarang ini.

Berlin, 13 Agustus 2010

2 thoughts on “Surat terbuka untuk SP PLN: Mereka yang memberikan martabat baik ditempat kerja!

  1. Yang penting kita harus bersinerjis dan jgn saling mendiskreditkan…..shg kita terpancing dg devide et impera / pecah belah dari penguasa kapitalis sbg lawan kita….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s