Leon Trotsky: Mengapa Kaum Marxist menentang terorisme individual (November 1911)

Dibawah ini terjemahan dari tulisan Leon Trotsky tentang Why Marxists Oppose Terrorism (November 2011). Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua…

Naskah diterbitkan di Jerman dalam Der Kampf, November 1911.
Awalnya naskah ini ditulis untuk Philisophy/History Archive, yang sekarang the Philosophy Section of the Marxists’ Internet Archive.
It was mirrored here with permission.
Proofread by Einde O’Callaghan, November 2006.

Diterjemahkan oleh Indah Budiarti dari: http://www.marxists.org/archive/trotsky/1911/11/tia09.htm


Musuh kelas kita memiliki kebiasaan mengeluh tentang terorisme kita. Yang mereka maksud dalam hal ini agak tidak jelas. Mereka ingin menamai semua aktivitas kaum proletar yang ditujukan untuk melawan kepentingannya sebagai terorisme. Pemogokan, di mata mereka, adalah metode utama terorisme. Ancaman pemogokan, pengorganisasian barisan mogok kerja, boikot ekonomi terhadap para boss yang memperbudak, boikot moral terhadap pengkhianat anggota kita sendiri – semua ini dan banyak lagi mereka sebut terorisme. Jikalau terorisme dipahami dengan cara ini, sebagai segala aksi yang membangkitkan rasa takut pada, melakukan hal yang merusak, musuh, maka tentunya seluruh perjuangan kelas adalah terorisme. Dan satu-satunya pertanyaan yang tertinggal adalah apakah para politisi borjuis memiliki hak untuk menuangkan banjir keberangan moral mereka terhadap terorisme proletar ketika seluruh apparatus negara dengan hukum, polisi dan tentaranya tak lain adalah alat untuk terror kaum kapitalis!

Namun, harus dikatakan bahwa ketika mereka mencela kita tentang terorisme, mereka mencoba – meskipun tidak dengan selalu sadar – memberikan makna yang lebih sempit, kurang tidak langsung pada kata itu. Perusakan mesin yang dilakukan oleh buruh, misalnya, diartikan sebagai terorisme dalam pengertiaan sempit ini. Pembunuhan majikan, ancaman untuk membakar pabrik atau ancaman pembunuhan terhadap pemiliknya, usaha percobaan pembunuhan dengan pistol di tangan terhadap menteri di pemerintahaan – semua ini adalah aksi teroris dalam arti sepenuh dan sebenarnya. Namun demikian, setiap orang yang memiliki gagasan tentang sifat sejati Demokrasi Sosial Internasional seharusnya tahu bahwa gagasan ini selalu menentang jenis terorisme semacam itu dan menentangnya dengan cara yang paling tak dapat didamaikan.

Mengapa?

“Menteror” dengan ancaman mogok kerja, atau benar-benar melakukan mogok kerja adalah sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh buruh industri. Makna sosial dari sebuah pemogokkan tergantung secara langsung dari, pertama, besaran perusahaan atau cabang industri yang terpengaruh, dan, yang kedua, sejauh mana para buruh yang terlibat di dalam aksi mogok kerja diorganisir, disiplin, dan siap untuk aksi. Makna social ini sejatinya sama bagi pemogokan politik seperti pemogokan ekonomi. Pemogokan terus menjadi metode perjuangan yang mengalir langsung dari peran produktif kaum proletar di dalam masyarakat modern.

Meremehkan peranan massa

Untuk berkembang, sistem kapitalis memerlukan superstruktur parlemen. Tapi karena tidak bisa membatasi kaum proletar modern ke dalam isolasi politik, cepat atau lambat sistem kaum kapitalis harus memperkenankan buruh untuk berpartisipasi di parlemen. Dalam pemilihan, karakter massa kaum proletar dan tingkat perkembangan politiknya – kuantitas yang, sekali lagi, ditentukan oleh peran sosialnya, yakni di atas segalanya, peran produktifnya – menemukan ekpresi mereka.

Seperti di dalam pemogokan, demikian pula di dalam pemilihan, metode, tujuan, dan hasil perjuangan selalu tergantung pada peran dan kekuatan sosial kaum proletar sebagai sebuah kelas. Hanya buruh yang dapat melakukan mogok. Para perajin yang diruntuhkan pabrik, petani yang airnya diracuni pabrik, atau proletar tunaharta yang mencari jarahan dapat menghancurkan mesin, membakar pabrik, atau membunuh pemiliknya.

Hanya kelas buruh yang sadar dan terorganisir yang dapat mengirimkan perwakilan yang kuat ke ruang parlemen untuk mengawal kepentingan kaum proletar. Namun, untuk membunuh pejabat terkemuka Anda tidak membutuhkan massa yang terorganisir di belakang Anda. Resep untuk bahan peledak dapat diakses oleh siapapun, dan Browning dapat diperoleh di mana saja. Dalam kasus yang pertama, ada perjuangan sosial, yang metode-metode dan cara-caranya harus mengalir dari sifat tatanan sosial yang berlaku; dan di kasus yang kedua, reaksi mekanis semataa yang serupa di mana saja – di China seperti juga di Perancis – sangat mencolok dalam bentuk luarnya (pembunuhan, ledakan dan sebagainya) tetapi tidak berbahaya sama sekali bagi sistem sosial.

Sebuah pemogokan, biarpun dalam ukuran yang terkecil, memiliki konsekuensi sosial: menguatkan kepercayaan diri para buruh, menumbuhkan serikat buruh, dan tidak jarang bahkan perbaikan pada teknologi produktif. Pembunuhan terhadap pemilik pabrik hanya berpengaruh pada polisi, atau penggantian pemilik pabrik tanpa makna sosial apapun. Apapun usaha teroris, bahkan usaha yang “berhasil” menggulingkan kelas penguasa pada kekacauan tergantung pada kondisi konkret politik. Dalam setiap kasus, kekacauan hanya hidup sejenak; negara kapitalis tidak mendasarkan dirinya pada para menteri pemerintahannya dan tidak dapat dihilangkan seiring penghilangan terhadap mereka. Kelas-kelas yang dilayani negara kapitalis akan selalu menemukan orang-orang baru; mekanismenya tetap utuh dan terus berfungsi.

Tapi kekacauan yang digulirkan ke dalam jajaran massa pekerja itu sendiri oleh sebuah usaha terorisme jauh lebih dalam. Jika mempersenjatai diri dengan pistol sudah cukup untuk mencapai tujuan, mengapa melakukan perjuangan kelas? Bila secuil mesiu dan sebongkah timah cukup untuk menembak musuh melalui leher, apa gunanya organisasi kelas? Bila masuk akal menakut-nakutii orang penting dengan gemuruh ledakan, di mana perlunya sebuah partai? Mengapa pertemuan, agitasi massa dan pemilihan umum bila seseorang bisa dengan mudah membidik bangku pejabat dari balkon parlemen?

Di mata kami, terror individual tidak bisa diterima karena ia mengecilkan peran massa dalam kesadarannya sendiri, mendamaikan mereka dengan ketidakberdayaannya, dan memalingkan mata dan harapan-harapan mereka ke arah sang pembalas dan pembebas yang suatu hari nanti akan datang dan menyelesaikan misinya. Nabi-nabi kaum anarkis yang mengkhotbahkan “propaganda kebajikan” bisa mengatakan semua yang mereka inginkan tentang pengaruh yang meninggikan dan merangsang dari tindakan-tindakan teroris pada massa. Tapi pertimbangan teoritis dan pengalaman politik membuktikan sebaliknya. Semakin ‘efektif’ tindakan-tindakan teroris, semakin besar dampaknya, mereka semakin mengurangi minat massa tersebut terhadap organisasi mandiri dan pendidikan mandiri. Tetapi asap dari kekacauan memudar, kepanikan menghilang, pengganti menteri yang terbunuh menampilkan dirinya, hidup kembali rutinitas yang dulu, roda kapitalis berputar seperti sedia kala; hanya represi polisi tumbuh lebih biadab dan kurang ajar. Akibatnya, sebagai ganti kerlip asa dan kegembiraan semu datanglah kekecewaan dan sikap apatis.

Upaya-upaya reaksi untuk mengakhir mogok dan gerakan massa buruh pada umumnya selalu, di manapun, berakhir dengan kegagalan. Masyarakat kapitalis membutuhkan kaum proletar yamg aktif, bergerak dan cerdas; masyarakat kapitalis karenanya tak dapat mengikat tangan dan kaki proletar untuk waktu yang lama. Di sisi lainnya, ‘propaganda kebajikan’ kaum anarkis selalu menunjukan bahwa negara jauh lebih kaya di dalam sarana penghancuran fisik dan represi mekanis dibandingkan kelompok teroris.

Jika demikian, di mana tersisa revolusi? Apakah tidak mungkin karena keadaan ini? Tidak sama sekali. Karena revolusi bukanlah sekumpulan sederhana alat-alat mekanis. Revolusi akan terjadi dari menajamnya perjuangan kelas, dan dapat menemukan jaminan kemenangan hanya di dalam fungsi sosial kaum proletar. Pemogokan politik massa, pemberontakan bersenjata, penaklukan kekuasaan negara – semua ini ditentukan oleh sejauh mana produksi dikembangkan, keselarasan kekuatan-kekuatan kelas, bobot sosial kaum proletar, dan, akhirnya, oleh komposisi sosial dari tentara, karena tentara merupakan factor yang pada saat revolusi menentukan nasib kekuasaan negara.

Demokrasi Sosial cukup realistik untuk tidak mencoba menghindari revolusi yang berkembang dari kondisi sejarah yang ada; sebaliknya, ia bergerak untuk menjumpai revolusi dengan mata terbuka lebar. Tetapi – bertentangan dengan kaum anarkis dan perjuangan langsung melawan mereka – Demokrasi Sosial menolak semua metode dan cara-cara yang memiliki sebagai tujuannya untuk memaksa secara artifisial perkembangan masyarakat dan untuk mengganti persiapan kimia dengan ketidakcukupan kekuatan revolusioner kaum proletar.

Sebelum terangkat ke level metode perjuangan politik, terorisme menampilkan dirinya dalam bentuk tindakan-tindakan balas dendam individual. Jadi, di Rusia lah tanah klasik terorisme. Deraan terhadap tahanan politik memaksa Vera Zasulich untuk memberikan ungkapan bagi perasaan marah umum atas upaya pembunuhan terhadap Jenderal Trepov. Contohnya ditiru di kalangan kaum intelektual revolutioner yang tidak memiliki dukungan massa. Apa yang dimulai sebagai tindakan balas dendan membabi buta berkembang menjadi sebuah sistem utuh di tahun 1879-81. Mewabahnya pembunuhan kaum anarkis di Eropa Barat dan Amerika Utara selalu datang setelah beberapa kekejaman yang dilakukan oleh pemerintah – penembakan terhadapa para pemogok atau eksekusi terhadap lawan politik. Sumber psikologis terpenting terorisme adalah selalu perasaan balas dendam untuk mencari jalan keluar.

Tidak perlu menghantam titik di mana Demokrasi Sosial tidak punya kesamaan dengan orang-orang untuk moralis yang, dalam menanggapi setiap tindakan teroris, membuat deklarasi-deklarasi resmi tentang ‘ nilai absolut’ kehidupan manusia. Mereka adalah orang yang sama yang, pada kesempatan lain, atas nama nilai-nilai absolut lainnya – contohnya, kehormatan bangsa atau wibawa monarki –siap mendorong jutaan orang ke dalam neraka peperangan. Hari ini, pahlawan nasional adalah menteri yang memberikan hak suci atas kepemilikan pribadi; besoknya, ketika tangan putus asa buruh penggangguran mengepalkan tangannya atau mengambil senjata, mereka akan memulai dengan segala macam omong kosong tentang kekerasan yang tidak dapat diterima dalam bentuk apapun.

Adapun yang dapat dikatakan para kasim dan kaum paria moralitas, perasaan dendam memiliki haknya. Adalah kelas buruh yang seharusnya diberikan kredit moral terbesar karena tak melihat dengan ketidakpedulian pada apa yang terjadi di semua kemungkinan terbaik dunia. Tidak untuk memadamkan perasaan balas dendam kaum proletar yang tidak terpenuhi, tapi sebaliknya mengaduknya lagi dan lagi, untuk semakin memperdalamnya, dan untuk mengarahkannya melawan penyebab dari semua ketidakadilan dan kehinaan manusia – yang merupakan tugas Demokrasi Sosial.

Bila kita menentang aksi teroris, maka itu hanya karena balas dendam pribadi tidak memuaskan kami. Perhitungan yang harus kita selesaikan dengan sistem kapitalis terlalu besar untuk diberikan kepada para pejabat yang disebut menteri. Untuk belajar melihat semua kejahatan terhadap kemanusiaan, semua penghinaan yang baginya tubuh dan jiwa manusia tunduk, sebagai pergolakan dan ekpresi sistem sosial yang ada, untuk mengarahkan semua energi kita menjadi perjuangan kolektif melawan sistem ini – artinya arah ke mana hasrat membara untuk membalas dendam dapat menemukan kepuasan tertinggi moralnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s