Praktek kerja outsourcing dan kontrak mengapa harus dilawan?

Hapusakan outsourcing sekarang juga, salah satu tuntutan buruh dalam May Day 2012. Foto oleh Indah Budiarti

Dalam buku yang diterbitkan bersama oleh AKATIGA-FSPMI-FES menjelaskan secara gamblang kenapa praktek kerja outsourcing dan kontrak harus dilawan. Secara definisi pekerja/buruh dalam kondisi kerja outsourcing dan kontrak dapat dikategorikan dalam precarious work. Precarious work adalah sebuah kondisi kerja dimana pekerja/buruh berupah rendah, tidak aman (gampangnya mudah dipecat dan tidak ada kestabilan kelangsungan pekerjaan), tanpa perlindungan, di luar kontrol pekerja/buruh dan tidak dapat menghidupi rumah tangga.

Praktek hubungan kerja kontrak dan outsourcing membawa efek degradasi pada kondisi kerja dan kesejahteraan pekerja/buruh. Selain itu pekerja/buruh dalam kondisi tersebut juga tidak bisa atau dihalang-halangi untuk bergabung dalam serikat pekerja/serikat buruh.

Dikatakan bahwa perusahaan multi-nasional (MNCs) adalah “pengerak-utama” atas ekpansi pekerja/buruh dalam kondisi yang precarious.  Sebagai ganti merekruit langsung para pekerja/buruh tetapnya mereka menjalankan segala bentuk praktek kerja fleksibel dan mengabaikan segala ketentuan aturan perburuhan yang ada dengan menempatkan pekerja/buruhnya pada kondisi precarious: upah murah, kontrak, direkruit dari perusahaan alih daya (outsourcing). Perusahaan-perusahaan ini sering menolak para pekerja/buruh ini berserikat karena takut bilamana pekerja/buruh akan membuat perjanjian kerja bersama dan mengubah aturan kerja ini. Perusahaan ini membuat para pekerja/buruh tetap dalam kondisi kontrak kerja, sehingga membuat pekerja/buruh ketakutan untuk kehilangan pekerjaannya. Situasi ini tentunya “memaksa mereka untuk setuju” pada kondisi ini karena menginginkan pekerjaan dan takut kehilangan mata pencahariannya.

Dalam buku yang saya maksud diatas, ditemukan beberapa hal terkait dengan kondisi ini:

  • praktek hubungan kerja kontrak dan outsourcing membawa efek fragmentatif, degradatif, diskriminatif dan eksploitatif terhadap buruh;
  • kesempatan bekerja pendek dan terbatas, tak ada kompensasi pada akhir hubungan kerja, kesejahteraan menurun, upah tidak pernah naik, tidak dapat berserikat
  • Serikat pekerja/serikat buruh kehilangan banyak anggota

Oleh karenanya bersama-sama kita hapusakan praktek-praktek kerja yang menyengsarakan pekerja atau buruh.

  • Silahkan download presentasi FSPMI tentang pengalaman mereka diindustri metal yang banyak pekerja/buruh outsoursing dan kontrak, apa yang telah mereka lakukan? Silahkan klik disini 
  • Baca buku laporan dari AKATIGA-FSPMI-FES, klik disini
  • Lihat video dibawah ini (sumber: IndustriAll)

One thought on “Praktek kerja outsourcing dan kontrak mengapa harus dilawan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s