Swastanisasi air minum di Jakarta adalah salah

Belajar dari swastanisasi air minum Jakarta! Penswastanisasi air minum (publik) adalah salah. Air bukanlah komoditas yang boleh dimiliki oleh perorangan atau suatu perusahaan (biasanya dinamakan dengan operator pengelola air minum(swasta)),air adalah sumber kehidupan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Contohnya di Jakarta, swastanisasi PAM Jaya telah merugikan negara sampai Rp. 1,2 Triliun, disamping itu juga pelayanan dinilai buruk, tarif air yang tinggi dan selalu naik (lebih mahal dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya). Sampai saat ini Pemda DKI Jakarta terpaksa menanggung kontrak dengan pihak operator swasta sampai tahun 2023, kalau ini akan diteruskan maka kerugian akan mencapai Rp. 18,2 Triliun. Perjanjian ini jelas-jelas merugikan pemerintah dan rakyat pengguna air, dikatakan bahwa perjanjian kerjasama ini sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga kedua operator swasta (yaitu: Palyja, PT PAM Lyonnaise Jaya, dan PT AETRA Air Jakarta) hanya memproduksi dan mendistribusi sedangkan pemerintah tetap sebagai penyedia air baku! Nah loh…itulah yang menyebabkan “utang”kepihak swasta …

Sebagai pengetahuan, saat ini warga Jakarta membayar Rp. 7800 per-meter kubik air bersih diwilayah yang dikelola Palyja dan Rp. 6800 per-meter kubik untuk wilayah yang dikelola AETRA.

Air adalah “industri” yang mengiurkan (bersama dengan industri gas dan minyak bumi), maka portfolia swastanisasi digulirkan oleh Bank Dunia ditahun 1992 —

Baca selengkapanya klik siapa melaba air bersih jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s